~Saat kamu terlahir sebagai seorang
lelaki, ada sejuta tanggung jawab yang menantimu. Salah satu yang terbesar
adalah menjaga perempuan… ~
***
"Anak baru belagak sok keren
rupanya..." seorang senior mendesak Rizky ke dinding "...mau jadi
pahlawan di antara cewek-cewek?"
Anak baru yang bernama Rizky itu
hanya tersenyum sengit. “Dia pikir aku takut”, gumamnya lirih. Ia mengalihkan
pandangan ke sekitarnya. Tidak jauh dari tempat itu seorang siswi mengintipi
mereka. Dia yang sadar sedang diperhatikan menjadi salah tingkah. Bukankah dia
itu, sepertinya Rizky mengenal siswi itu. Bukankah dia itu Tania... Rizky
memberontak untuk melepaskan diri dari kakak kelas yang menyebalkan itu. Lalu
berlari mengejar siswi tadi. Sepintas terdengar kata makian, tapi biarlah, yang
ada dipikirannya hanyalah, memastikan apakah benar gadis itu adalah Tania,
teman kecilnya.
***
"Sebenarnya apa yang terjadi?
Kenapa kamu ‘mengurusi’ anak itu?" siswi yang bertanya ini Karin namanya,
siswa yang menunduk karena ditanyai itu Tomi. Dia hanya diam.
"Aku bertanya baik-baik,
Bung!" lanjut Karin.
"Ok ok. Baik Ketua, saya jelaskan!"
dia sangat tahu kalau Karin kurang setuju dengan yang namanya pem-bully-an
tapi dia tidak punya pilihan selain berkata jujur. Kejadian berawal saat
panitia Masa Orientasi Siswa (MOS) mengambil "korban" secara acak ketika
semua peserta berkumpul di lapangan. Mereka memilih 5 orang siswi yang salah
satunya bernama Rika. Ketika akan memberi ‘hukuman’ berupa ‘menari’, Rika
menolak hingga beberapa panitia perempuan berdiri di depannya. Rika berada di
posisi yang benar, apa yang mereka suruh tidak masuk akal! Bisa-bisanya menyuruh
para junior untuk menirukan gaya streaptease.
Belum tunai niat itu tiba-tiba saja
seorang siswa keluar dari barisan dan menarik siswi yang bernama Rika itu. Dia berteriak ke
semua murid di lapangan "siapapun yang berani menyentuh gadis ini, akan
berhadapan dengan saya. Tolong ingat itu baik-baik!" dengan sorot mata
tajam bagai elang yang mengintai mangsa.
"Tentu saja kami merasa terhina"
terang Tomi di akhir cerita.
Karin terdiam, sambil memegang dagu dia
coba memikirkan sesuatu.
"Pokoknya aku tidak akan
membiarkannya…" ungkap gadis itu tiba-tiba.
“Membiarkan apa maksud Ketua?"
tanya Tomi, namun bukannya mendapat jawaban ia malah mendapat gertakan.
"Bukan urusanmu!" cetus
Karin.
Tomi menggerutu. "Lagi PMS
ya?" sambungnya tanpa berpikir. Upss, keceplosan. Ibarat operasi
penjinakan bom, bocah ini telah memotong kabel yang salah. Celaka! Tiba-tiba sebuah
pukulan mendarat di perut siswa itu, dia KO. Kritis. Tiba-tiba saja relawan
Palang Merah Remaja (PMR) datang dan menggotongnya dengan tandu ke ruang Unit
Kesehatan Sekolah (UKS).
“... membiarkan sekolah ini
menjadi tempat mencari jodoh” sambung Karin dalam hati. Sebagai seorang
ketua OSIS yang baik dan benar, tentu saja dia ingin membuat suasana sekolah
sekondusif mungkin.