#1 Tolong, Untuk Saat Ini Mengakulah Sebagai Temanku

  • 0
~Saat kamu terlahir sebagai seorang lelaki, ada sejuta tanggung jawab yang menantimu. Salah satu yang terbesar adalah menjaga perempuan… ~
***
"Anak baru belagak sok keren rupanya..." seorang senior mendesak Rizky ke dinding "...mau jadi pahlawan di antara cewek-cewek?"
Anak baru yang bernama Rizky itu hanya tersenyum sengit. “Dia pikir aku takut”, gumamnya lirih. Ia mengalihkan pandangan ke sekitarnya. Tidak jauh dari tempat itu seorang siswi mengintipi mereka. Dia yang sadar sedang diperhatikan menjadi salah tingkah. Bukankah dia itu, sepertinya Rizky mengenal siswi itu. Bukankah dia itu Tania... Rizky memberontak untuk melepaskan diri dari kakak kelas yang menyebalkan itu. Lalu berlari mengejar siswi tadi. Sepintas terdengar kata makian, tapi biarlah, yang ada dipikirannya hanyalah, memastikan apakah benar gadis itu adalah Tania, teman kecilnya.
***
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu ‘mengurusi’ anak itu?" siswi yang bertanya ini Karin namanya, siswa yang menunduk karena ditanyai itu Tomi. Dia hanya diam.
"Aku bertanya baik-baik, Bung!" lanjut Karin.
"Ok ok. Baik Ketua, saya jelaskan!" dia sangat tahu kalau Karin kurang setuju dengan yang namanya pem-bully-an tapi dia tidak punya pilihan selain berkata jujur. Kejadian berawal saat panitia Masa Orientasi Siswa (MOS) mengambil "korban" secara acak ketika semua peserta berkumpul di lapangan. Mereka memilih 5 orang siswi yang salah satunya bernama Rika. Ketika akan memberi ‘hukuman’ berupa ‘menari’, Rika menolak hingga beberapa panitia perempuan berdiri di depannya. Rika berada di posisi yang benar, apa yang mereka suruh tidak masuk akal! Bisa-bisanya menyuruh para junior untuk menirukan gaya streaptease.
Belum tunai niat itu tiba-tiba saja seorang siswa keluar dari barisan dan menarik  siswi yang bernama Rika itu. Dia berteriak ke semua murid di lapangan "siapapun yang berani menyentuh gadis ini, akan berhadapan dengan saya. Tolong ingat itu baik-baik!" dengan sorot mata tajam bagai elang yang mengintai mangsa.
"Tentu saja kami merasa terhina" terang Tomi di akhir cerita.
Karin terdiam, sambil memegang dagu dia coba memikirkan sesuatu.
"Pokoknya aku tidak akan membiarkannya…" ungkap gadis itu tiba-tiba.
“Membiarkan apa maksud Ketua?" tanya Tomi, namun bukannya mendapat jawaban ia malah mendapat gertakan.
"Bukan urusanmu!" cetus Karin.
Tomi menggerutu. "Lagi PMS ya?" sambungnya tanpa berpikir. Upss, keceplosan. Ibarat operasi penjinakan bom, bocah ini telah memotong kabel yang salah. Celaka! Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di perut siswa itu, dia KO. Kritis. Tiba-tiba saja relawan Palang Merah Remaja (PMR) datang dan menggotongnya dengan tandu ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
“... membiarkan sekolah ini menjadi tempat mencari jodoh” sambung Karin dalam hati. Sebagai seorang ketua OSIS yang baik dan benar, tentu saja dia ingin membuat suasana sekolah sekondusif mungkin.
***
            “Aku melewatkannya!!!” Tami histeris.
            “Sesuatu yang penting?” Tania penasaran.
            “Tentu saja, gara-gara orientasi tidak berguna ini, aku harus datang pagi-pagi sekali…” keluhnya “… dan parahnya para panitia itu telat sampai setengah jam!” jelas Tami curhat.
            “Dan sekarang kau melarikan diri?” Tania mendekatkan hidungnya ke wajah sahabatnya itu.
            “Tidak,.. tidak…” jawab Tami gugup.
            “Kalau tidak apa keperluanmu bersembunyi di toilet?”
            “Karna,..ng… itu…” sepertinya dia kesulitan hingga mengalihkan pembicaraan “…dan kamu sendiri ngapain ke sini?” tanya Tami balik.
            “Seseorang mengejarku, dan kupikir bersembunyi di toilet akan aman, hehe”
            “He…?”
            “Karena dia adalah murid laki-laki…” Tania coba jelaskan, tapi langsung dipotong,
            “Gantengkah?” potong Tami.
            Hening. Tiba-tiba. Mata Tania menyipit curiga.
            “Kalau standar ke-ganteng-an yang kamu punya adalah aktor Korea, dia tidak seperti yang kamu harapkan” goda Tania diikuti tertawanya yang khas. Matanya hilang menyipit, sepasang lesung pipit yang membuat gadis manapun iri. Tami yang dikerjai merasa kesal. Huh!
            “Seseorang di luar sana, jika kau mencari Tania, dia berada di dalam sini!”
            “Ih, resek!” balas Tania dan segera menghambur keluar, tapi sebelum itu Tania berkata pada temannya, “silakan nikmati sampai puas pacar fiksimu itu, Fangirl!!”. Kemudian kabur dan bertabrakan. BRAKK!!
            “Aduh,… Aku berlindung kepada Tuhan dari godaan lelaki yang terkutuk!” latah yang panjang sekali.
            “Tania,.. kamu benar Tania kan?” tanya Rizky, Tania salah tingkah.
            “Ngg,.. mungkin kamu salah orang, maaf aku harus pergi dulu” segera dia berdiri dan bersiap pergi. Namun, baru saja Tania hendak pergi Rizky menahan tangannya. Sejenak keduanya saling bertatapan. Tidak salah lagi. Saat itu keyakinan Rizky sempurna, bahwa gadis itu benar-benar…
            “Kamu Tania teman kecil kami, jangan bohong!”
***
Di kelas X3 suasana tengah riuh, para siswa sibuk membicarakan pembukaan MOS tadi. Ada yang berkenalan, ada yang membangun chemistry dengan membicarakan hobi mereka yang kebetulan sama. Ada yang membicarakan senior yang sesuai dengan tipenya, bahkan menandai mereka. Tapi yang paling banyak tentu membicarakan ‘kekejaman’ yang telah mereka terima. Itu hal yang wajar bukan?
“Aku tidak habis pikir kenapa tradisi bodoh seperti ini masih saja dipakai zaman sekarang, sudah kuno tahu!” Rifhana kesal bukan main.
“Mungkin sampai saat ini belum ditemukan cara yang efektif biar senior dan junior bisa dekat, Na” balas Rika. “By the way, bisa bantu perbaiki kepang rambutku, Na?” pinta Rika kepada Rifhana.
“Bukan begitu Rik, tapi sudah bukan zamannya lagi MOS pakai sistem perploncoan”
“Perploncoan? Eh, jangan panggil Rik. Panggilan anak lelaki gitu. Panggil saja Ika, kalau susah bilang Rika”
“Roger!” balas Rifhana tangkas.
“Eh, tapi kabarnya ketua OSIS awalnya tidak setuju dengan konsep yang begini”
“Masa? Dari mana kamu tahu?”
“Rizky yang bilang sama aku”
“Rizky siapa? Atau jangan-jangan cowok yang menarikmu di lapangan tadi? Dia pacarmu? Cie…cie…” selidik Rifhana tiba-tiba.
“Demi keripik nangka, bukan, sama sekali bukan! Dia cuma,…”
            “Cuma apa? Cuma apa nih?” Rifhana sumringah. Rika bingung hendak menjawab apa. Benar-benar bingung.
            “Hmm… cuma teman, iya, cuma teman biasa kok, hehe”
            “Aha…” bagai dapat pulsa nyasar “…kalau begitu, berarti aku boleh mendekatinya?” tanya Rifhana sambil tersenyum.
            “Hee….”        
***
            Terkadang memang dunia ini sesempit daun nangka, kita mencoba pergi jauh untuk mencari sesuatu yang baru namun yang kita temui adalah teman lama. Kemudian kenangan-kenangan itu bermunculan kembali, mengingatkan kita dengan masa-masa yang telah berlalu. Kali ini, entah harus merasa sedih atau gembira. Bertemu dengan Tania adalah sesuatu yang istimewa baginya. Bagi jantungnya yang tiba-tiba berdegup cepat.
“Maaf, Rizky… boleh lepaskan tanganku” pinta Tania, wajahnya memerah. Gadis mungil itu membuang muka dari anak lelaki di depannya.
            “Aku tidak menyangka saja kita akan bertemu di sekolah ini, ternyata dunia ini sempit ya, hehe”
            “Kalau saja aku tahu kamu juga akan sekolah di sini aku akan pilih sekolah yang lain” jelas Tania, dia sama sekali tidak bohong. “Oh ya, kalau dihitung-hitung sekarang kalian sudah satu angkatan ya” lanjutnya. Rizky terkejut dengan (pernyataan) itu, membuatnya reflek menutup mulut Tania dengan telapak tangannya. Tania syok dan mendorong Rizky hingga terjatuh.
            “Jangan sentuh aku!” dia marah, terlihat dari mata hitam bundarnya itu.
            Rizky tertunduk. Barangkali banyak hal yang telah berubah.
            “Mohon maaf sekali. Aku sangat menyesal...” ujarnya sembari membenamkan wajah. “…tapi jika boleh aku minta tolong, tolong jangan beri tahu siapapun tentang hubunganku dengan Rika” dia memohon.
***
            “Tolong, untuk saat ini mengakulah sebagai temanku” pinta Rika pagi itu. Pagi yang hening. Ini hari pertama sekolah tapi mereka tidak mendapati keceriaan. Tidak langit yang cerah, tidak pula nyanyian burung-burung. Apalagi pelukan hangat. Tidak sama sekali.
            “Kenapa, karena malu?”
            Rika hanya diam.
            “Kamu tahu tidak, kenapa aku mati-matian agar bisa mengejarmu. Semata karena aku ingin melindungimu, Kak. Aku berhutang ke pada Ayah!”
            Hening menyergap.
            “Mungkin Ayah sekarang sedang melihat kita di syurga. Dan mungkin dia kecewa dengan anak-anaknya” perlahan suara Rizky mulai serak.
            “Aku bertanggung jawab menjagamu. Setidaknya sampai kakak sudah punya laki-laki yang bertanggung jawab nanti” lanjutnya.
            “Dan kamu selalu sok dewasa…” potong Rika “…memangnya sekarang siapa kakaknya? Kamu?!”
            Paman Danu hanya melihat mereka dari jauh, ia tidak mau terlibat dalam pertengkaran kakak-adik itu. Semenjak kepergian abang iparnya Seto—ayah Rika dan Rizky—tiga tahun yang lalu, Danu diminta oleh Dina—Ibu kedua anak itu—untuk pindah ke rumah mereka menjaga anak-anaknya. Ibu mereka? Wanita bernama Dina itu telah menikah dengan lelaki lain dan pergi bersamanya. Rika dan Rizky pernah ia ajak untuk tinggal bersama namun mereka menolak, mereka hanya bilang tidak ingin melupakan ayah. Dan sengaja untuk tidak mengatakan bahwa Ibu mereka telah mengkhianati ayah mereka. Dan Rizky, mendapat pesan dari ayah untuk menjaga ibu dan kakaknya dalam bagaimanapun keadaannya. Sampai sejauh ini dia telah berjuang banyak hal. Belajar giat setiap malam agar bisa ikut kelas akselerasi dan bisa satu kelas dengan kakaknya yang hanya terpaut satu tahun.
            Maka ia sungguh tidak bisa menerima permintaan Rika untuk mengaku hanya sebagai teman. Tidak sama sekali.
            “Kamu tahu kenapa aku pilih sekolah yang jauh dari SMP kita? Itu karena aku ingin memulai hidup baru. Aku ingin menjadi diriku sendiri…”
            Rizky tidak menjawab, ia hanya tenggelam dalam sekumpulan persepsi.
            “Ayo berangkat sekolah, kalau tidak mau kita ketinggalan bus!” ajak Rika menyudahi suasana tidak bersahabat itu. Tanpa banyak bicara Rizky bangkit dan menyambar ransel serta beberapa atribut yang ada di pengumuman untuk siswa baru.
            “Ah. Aku terlalu melankolis. Bisa jadi kakak cuma sedang lagi didatangi tamu bulanan” pikirnya.***


Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar, kritik dan saran adalah penghargaan terbaik untuk penulis!